twitter


Adab Berbicara

            Wahai saudaraku, orang yang berakal tidak akan berbuat sesuatu sebelum mempertibangkan dengan seksama langkah yang akan diambilnya. Tidak ada satu pekerjaan pun yang ia lakukan dengan sia-sia atau karena kebiasaan belaka. Semua amalnya dilandasi dengan niat-niat baik, khususnya saat berbiara. Karena, dalam ucapan tersimpan berbagai rahasia menakjubkan dan hikmah mengagumkan yang harus diperhatikan oleh mereka yang berakal.
            Seorang manusia seharusnya berfikir dahulu sebelum berbicara. Ia harus meletakan lisannya dibalik hatinya. Tidak boleh ada sepatah kata pun diucapkan tanpa pertimbangan akal sehatnya. Jika seorang hamba memiliki taufik untuk memahami persoalan ini, maka akan menjadi baik awal urusannya, dan akan berhasil pada akhirnya.
            Manusia seharusnya berbicara dengan halus, dan tidak banyak meskipun baik, karena ucapan baik akan menjadi buruk bila sering diucapkan. ia hendaknya tidak berbicara tak karuan atau berteriak-teriak, hendaknya ia berhenti berbicara ketika nafsunya masih menginginkan, atau sebelum telinga orang tak mau lagi mendengarkannya. Hendaknya ia tidak mengucapkan sesuatu yang tidak bermanfaat, seperti menceritakan peristiwa yang telah terjadi tanpa tujuann yang benar. Para ahli makrifat menyebut ucapan macam ini al-kalamul mayyit (ucapan mati). Hanya orang-orang yang lalai dan berakal lemahlah yang menghabiskan waktunya untuk membicarakan peristiwa yang telah terjadi tanpa tujuan yang benar.
            Manusia seharusnya berbicara sebatas kebutuhan. Karena itulah dikatakan bahwa menolong orang yang salah adalah melakukan dua kesalahan. Mengungkapkan peristiwa lalu hanya akan menyia-nyiakan umur. Ia seharusnya menghindari ucapan-ucapan yang dapat membangkitkan nafsu dan memencing timbulnya keburukan. Sebab, jiwa saling mempelajari dan dapat merasakan keadaan jiwa yang lain. Orang-orang yang mengucapkan sesuatu yang pada lahirnya baik, tetapi muncul dari jiwa yang bergejolak dan buruk, maka ucapannya itu akan menggerakan dan membangkitkan keburukan yang terdapat di dalam jiwa orang lain.
            Ketahuilah, hawa akan menggerakan dan membangkitkan keburukan hawa yang lain. Hawa tersembunyi dalam jiwa seperti tersembunyinya api dalam sekam. Jilka hawa berhadapan dengan hawa yang bergejolak, ia akan ikut bergejolak. Kadang kala seseorang tenang, tetapi ketika berhadapan dengan orang yang hawa nya bergejolak, ikut bergejolak hawa-nya. Begitu pula pembicaraan manusia. Ucapan akan muncul sesuai dengan keadaan batin pembicara, tenang ataupun gelisah. Sebab, keadaan batin mempunyai hubungan yang sangat erat dengan kata-kata yang dituturkan. Bukankah kamu pernah melihat seseorang berbicara kepada temannya dengan kalimat yang pada lahirnya kasar dan buruk, tetapi karena muncul dari jiwa yang baik, maka ucapannya tadi tidak berpengaruh, atau tidak memberikan kesan buruk kepadanya. Ucapan semacam ini, jika keluar dari jiwa yang penuh gejolak dan hati yang buruk akan menggerakan dan membangkitkan keburukan dari lawan bicaranya. Oleh karena itu, pada saat berbicara hendaknya manusia memperhatikan keadaan jiwanya ataupun suasana hati orang lain agar tercapai kebaikan dan ketenangan.
Betapa indah ucapan sayidina ‘Ali kwh ketika menjelaskan rahasia ucapan :
             “Wadah (lahan) ucapan adalah hati, gudangnya adalah pikiran, penguatnya adalah akal, pengungkapnya adalah lisan, jasadnya adalah huruf, ruhnya adalah makna, hiasannya adalah I’rab dan aturannya adalah kebenaran”.
            Pengaruh ucapan pada pendengaran tergantung pada jiwa pembicara. Jika ucapan tersebut muncul dari jiwa yang kuat, maka memberikan kesan yang kuat. Dan jika muncul dari jiwa yang lemah, maka akan memberikan kesan yang lemah. Oleh karena itu, sebelum manusia berbicara harus memperhatikan keadaan jiwanya agar kalimat yang ia ucapkan muncul dari jiwa yang tenang (sakinah), sehinnga ia dapat berbicara kepada temannya dengan lemah lembut, dapat merebut dan menyengkan hatinya, dan tidak membuatnya marah.
Allah SWT berfirman:
            “serulah (manusia) kepada jalan tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (An-Nahl, 16:125).
            “tolaklah (kejahatan) dengan cara yang lebih baiak, maka tib-tiba orang yang antara kamu dan dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia”. (Fushilat, 41:34).
            “dan sifat-sifat yang lebih baik itu tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugrahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar”, (Fushilat, 41:35).
            Ayat ini menunjukan bahwa orang yang memiliki sifat-sifat mulia, mereka telah memperoleh karunia yang sangat besar dari Allah. Pahamilah persoalan ini dan berusahalah untuk berprilaku dengan sifat-sifat mulia tersebut, yakni dengan akhlak kaum khowwash (khusus). Wahai saudaraku, perhatikanlah akhlak-akhlak yang mulia ini dan berlombalah untuk meraihnya. Pergaulilah manusia dengan sopan santun. Hindarilah gejolak nafs, karena bila nafs bergejolak, ia akan kembali pada tabiatnya, yaitu cenderung untuk melakukan perbuatan buruk dan menampakan aib. Sedangkan bila nafs telah rela dan senang, maka ia akan merasa lapang dan siap untuk melakukan berbagai perbuatan baik.
            Jauhilah pertentangan dan pertengkaran dengan segenap tenagamu, baik secara lahir maupun batin. Jika kamu tidak mampu menghindarinya secara batiniah, maka hindarilah secara lahiriah. Perlakukanlah temanmu dengan baik, sebab pertentangan merupakan sumber keburukan dan bencana, sebagaimana dikatakan :
            “pertentangan membangkitkan permusuhan dan permusuhan mendatangkan bencana”.
            Oleh karena itu wahai saudaraku, berusahalah untuk hidup rukun dan tenangkanlah jiwamu, karena jika antara hati yang satu dan yang lain telah saling bersesuaian, maka manusia akan mudah mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan keberkahanpun akan turun.
Sayidina Ali kwh berkata:
            “biasakanlah dirimu untuk berniat dan bertujuan baik, niscaya kamu akan sukses”.
            Pusatkanlah perhatianmu pada usaha untuk memperbaiki budi pekerti, niscaya kamu akan mendapat petunjuk dalam setiap urusanmu.
            “ilmu diperoleh dengan belajar sedangkan hilm (sabar, santun) diperoleh dengan latihan sabar”.
Dikatakan di dalam sebuah syair:
             Sebelum jadi penyantun,
             ia dipukul dengan tongkat terlebih dahulu
             seseorang dididik,
             tak lain agar berilmu
            Manusia harus menjaga ucapannya, jangan sampai ia mengucapkan kata-kata buruk atau menceritakan pembicaraan yang buruk kepada seseorang, karena kelak ia akan terkana aibnya dan akan mendapat daosa paling banyak.
Seorang penyair berkata
            Tak akan berkata jorok, si orang mulia,
            Tak akan pula menghapal ucapan tercela
            Ia curahkan semua tenaga,
            Dan bila bicara indah dan benar ucapannya
            Seorang manusia hendaknya tidak berbicara ketika berada dalam keadaan emosional dan marah. Sebab, saat itu nafsunya sedang bergejolak dan berkobar sehingga ia mudah tergelincir dalam kesalahan. Oleh karena itu, hendaknya ia bersabar hingga jiwanya tenang.


Rahasia Ilmu Para Wali
Judul Asli : Idhahu Asrari Ulumil Muqarrabin
Karya : Habib Muhammad bin Abdullah Al-Aidarus.

0 komentar:

Poskan Komentar